Selasa, 18 Desember 2007

TARIAN UNTUK SEORANG PEREMPUAN

diterbitkan di Annida no 24, tahunnya lupa juga :)


“Aku akan membuat tarian khusus untuk perempuan itu, Jo. Special!” Harjo melipat satu kakinya ke atas kursi, serasa ia sudah bosan mendengar cerita-cerita Setyo tentang perempuan itu.

“Tarian special gimana?” tanya Harjo setengah aras-arasan.

“Ya, pokoknya yang special, yang beda dari biasa-biasanya, ada gerakan penghormatannya. Dan saat aku menunjukkannya kepada perempuan itu nanti tarianku akan kututup dengan gerakan penghormatan ke depan dia,” tukas Setyo berapi-api.

“Kayak tentara aja pake penghormatan segala,” ketus Harjo.

“Bukan penghormatan gini…,” ujar Setyo seraya merapatkan telapak tangan kanannya ke kening.

“Tapi seperti penghormatan seorang pangeran pada putri,” tambahnya lagi seraya membungkuk dan melipat tangan kanannya ke depan perut.

“Lamar aja sekalian.”

“Wah… kok kamu nesu? Cemburuuu….”

“Ih… emang hombreng?! Sorry ya mas?!” Harjo menirukan suara cempreng banci.

“Pokoknya berapa pun uang yang akan dia masukkan nanti, aku akan memberikan tarian special untuknya, semua durasi musik itu. Aku akan pasang senyumku yang paling manis saat perempuan itu datang.” Harjo manyun sembari tangannya meraih selembar kertas dan sebatang pensil, ia mulai menggoreskan hitam di atas putih.

“Aku gunakan kemampuan breakdanceku.”

“Biasanya kamu juga breakdance.”

“Tapi ini beda! Bahkan kalau perlu aku tambahkan dancenya Michael Jackson,” Setyo bergerak menirukan tarian-tarian Michael Jackson. Sebuah topi tukang sulap yang tergatung di dinding diraihnya dan dipadukan dengan gerakan-gerakan patah tarian Jackson, ditambah moonwalk yang sama sekali tidak luwes, dan diakhiri dengan satu gerakan penutup.

“Aw! I-hi!!” ia menirukan teriakan king of pop itu. Harjo tak peduli, tangannya terus mencoret-coret kertas. Ia sudah terbiasa dengan ide-ide gila teman sekontrakannya itu sejak pertamakali Setyo memutuskan untuk menjadi… hm… pengamen? Ya, minimal itu istilah yang tepat untuknya.

“Tapi pengamen kayak aku kan beda, Jo. Belum ada di Indonesia yang kayak gini. Baru ada di Jepang aja,” ujar Setyo saat itu. Ia memang mendapat ide ‘gila’ itu saat membuka majalah anak-anak yang sudah usang dan melihat salah satu pengamen unik di Jepang. Ia pun semangat 45 meniru pengamen itu. Dengan bekal ilmu teater dan ilmu tari yang ia dapatkan saat menempuh studi di ISI jurusan senitari, ia memutuskan untuk ‘menari di jalanan’.

“Kreatif memang”, itu yang terbersit di benak Harjo sejak awal. Temannya yang satu ini memang tak pernah kekurangan ide. Tapi susahnya untuk menjadi pengamen jenis yang satu ini butuh modal yang tidak sedikit.

“Ngamen kok modalnya gede!”

“Lho, kan kalau mau total di satu profesi harus berani mengorbankan apa saja, termasuk duit.”

“Ngamen kok profesi.”

“Tapi kan pengamen kreatif?! Anak-anak pasti banyak yang suka, bahkan orang dewasa. Bajunya aja ngejreng gini, gimana nggak menarik perhatian?”

“Iya, disangka orang gila.” Setyo cuek, tetap mematut diri di depan cermin. Kostum barunya yang futuristik ala robot pas di badan, dengan penutup kepala seperti ‘Power Ranger’ , dan warna seluruhnya yang abu-abu metalik, persis robot. Ditambah kotak musik sewarna yang dirancang khusus sesuai pesanan Setyo. Ia meminta salah satu teman SMAnya yang lulusan teknik mesin ITS untuk membuat sebuah kotak musik yang akan berbunyi bila dimasuki uang receh di dalamnya. Kalau uang yang dimasukan seratus rupiah, maka durasi musik yang mengalun selama 30 detik, kalau duaratus ya 2 X 30 detik, kalau lima ratus 2 menit, seribu rupiah 3 setengah menit. Kalau lima puluh rupiah, kotak itu tidak mau menerima, uang akan keluar lagi seperti telepon umum.

“Pengamen mahal, ngamen kok pake tarif!” komentar Harjo.

“Lho, kan seimbang dengan performance artnya, profesional donk…,” jawab Setyo. Harjo manyun lagi.

Yang jelas untuk kotak musik dan kostum robotnya memakan biaya lebih 200 ribu rupiah, jumlah yang sangat besar bagi pengangguran seperti mereka berdua. Tapi Setyo tak peduli, ia optimis hasil yang akan ia peroleh pun akan besar setiap harinya.

Namun harjo tak menghalangi niat nyleneh temannya itu, toh ia juga tak punya alternatif pekerjaan lain selain sebagai pelukis wajah, dengan bekal ilmu senirupa yang juga ia peroleh dari ISI. Sayangnya seniman seperti mereka tak begitu digubris di kota sekecil Jombang. Seharusnya mereka tetap bertahan di Jogja. Tapi mereka ingin pulang kampung, idealisme membangun kampung halaman masih melekat, walau nyatanya pada akhirnya mereka kurang dihargai.

Setyo melengkapi modal ngamennya dengan menciptakan tarian-tarian kaku seperti robot atau boneka. Ia paskan dengan musik dance yang mengalun dari kotak musik. Harjo yang kebagian mengaudisi. Ia masukkan uang seratus, lima ratus, lalu seribu rupiah. Setiap kali koin masuk, musik mengalun dan Setyo mulai menari seperti sebuah robot, kaku, patah-patah, dan statis.

“Tapi keren juga,” pikir Harjo dalam hati.

Dan sejak saat itu resmilah Setyo menjadi pengamen. Awalnya ia berdiri di depan bangunan pasar yang terletak di antara jajaran toko-toko sepanjang jalan Ahmad Yani. Berdiri siap dengan gerakan pertama dan disampingnya kotak musik diletakkan di atas bangku tinggi, dengan ditempeli tulisan “MASUKKAN UANG, DAN AKU AKAN MENARI UNTUKMU”.

Ia mematung di bawah terik matahari. Hanya saat matahari di timur ia terlindungi bayangan toko pakaian, dan ketika matahari mulai condong ke barat ia tertutupi bayangan tempat parkir sepeda motor. Tapi jika matahari tinggi, ia terpanggang di bawahnya. Perjuangan yang cukup keras. Namun lama-kelamaan ia diperbolehkan pengawas pasar untuk berdiri di atas panggung joglo di tengah halaman depan pasar itu, dan ia pun semakin nyaman terlindung matahari di bawah atap panggung.

“Timbang cuma dipake cangkruk, Mas,” ujar pengawas pasar. Hanya saja saat panggung itu dipakai, ia harus rela menyingkir dan kembali ke bawah sinar matahari.

Kedatangannya ke pasar itu menghebohkan seluruh pembeli dan penjual. Anak-anak menarik-narik orang tuanya, memaksa untuk memasukkan uang ke kotak musik dan melihat tarian robot itu. Bahkan orang dewasa pun penasaran ingin melihat tariannya. Anak- anak kecil tertawa kegirangan, orang dewasa tersenyum, ada yang geleng-geleng kepala, ada pula yang kagum. Bahkan Setyo mendapatkan tepukan yang meriah pada tarian yang pertama.

Hari pertamanya bekerja ia hampir tak pernah berhenti menari, setiap musik habis selalu ada-ada saja yang memasukkan koin ke kotak musik. Yah, pasar tak pernah sepi pengunjung. Setyo kelelahan, badannya pegal dan linu. Setelah ia betul-betul lelah ia akhiri aksinya. Diraihnya kotak musik dan ia melangkah santai ke kamar mandi pasar untuk mengganti pakaiannya.

“Lho, robote kok iso lenggang kangkung?” kelakar seorang tukang becak yang nongkrong di dekat panggung mengomentari.

“Pegel Mas,” jawabnya disambut tawa orang-orang di sekitarnya. Tapi Setyo puas, pendapatannya lumayan besar untuk recehan sebanyak itu. Ia tertawa bangga seraya menunjukkan logam-logam emas dan perak itu pada Harjo.

“Betul kan Jo? Ini baru hari pertama, belum besok-besok. Lumayan Jo.” Harjo tertegun melihat pendapatan Setyo. Ada iri terbersit di hatinya, ia belum pernah mendapatkan uang sebanyak itu. Kerjanya sebagai pelukis wajah kurang begitu laris di Jombang. Tapi Harjo menyadari kelebihan Setyo. Watak Setyo yang melankolis sempurna membuatnya selalu serius mengerjakan sesuatu, dan itu menyebabkan ia hampir selalu berhasil mendapatkan apa yang ia mau.

“Siapa tahu suatu saat nanti aku diundang ke pesta ultah anak-anak,” pikir Setyo berangan-angan.

“Ngimpii…!” ujar Harjo. Tapi benar saja, Setyo akhirnya diundang ke sebuah pesta ultah anak-anak. Ada saatnya ia harus menunjukkan tariannya di panggung untuk anak-anak yang hadir, dan mereka bersorak gembira. Honor yang ia peroleh cukup besar saat itu.

Pengamen yang satu ini memang sukses, ia semakin terkenal, bahkan sempat masuk koran.

“Masuk koran?” tanya Harjo tak percaya ketika Setyo bercerita padanya.

“Iya, tadi aku diwawancara sama wartawan Jawa Pos. Katanya besok beritaku terbit.”

“Ah, paling di Radar Mojokerto.”

“Lho… ya gak no!! Ya di rubrik entertainment, dijajarin sama artis atau kolom budaya,” ralat Setyo. Harjo terkekeh, ia membayangkan berita Setyo berada di antara berita-berita pembunuhan dan pencurian.

“Lama-lama aku terkenal, Jo. SeIndonesia!” Memang akhirnya Setyo semakin terkenal, di seantero pasar, bahkan di seluruh Jombang. Ia pun mulai dikenal di kota lain. Sayangnya ia lebih dikenal sebagai ‘Pengamen Panji Manusia Millenium’, tidak tersohor atas namanya sendiri. Tapi ia tak ambil pusing, yang penting Setyo menikmati profesi itu.

“Tarianku harus terus diperbarui setiap sebulan sekali, biar pelanggan nggak bosen,” ujarnya suatu saat.

“Pelanggan?”

“Iya. Apa nggak boleh pengamen seperti aku punya pelanggan?”

“Memangnya ada?”

“Ada! Perempuan, cakep lagi. Aku nggak tau sejak kapan di nanggap aku. Tapi lama-lama aku hapal sama wajahnya. Paling nggak dia seminggu sekali ke pasar, dan setiap kali dia datang pasti dia nanggap aku.”

“Pasti?”

“Iya.”

“Alah… cuma gara-gara dia cewek kamu hapalin. Siapa tau ada pelanggan lain. Arek cilik, elek, umbelen, gak mbok gathekno!”

“Ya... nggak peduli!! Pokoknya dia itu fansku.”

“Pengamen kok punya fans!”

“Itulah aku, pengamen yang punya fans,” ujar Setyo bangga.

“Dia bener-bener interest ngeliat penampilanku.”

“Sok tau!!”

“Bener! Aku bisa ngebaca dari ekspresi dan pancaran sinar matanya.”

“Huu!!” Harjo mencibir.

“Lho, aku kan mantan anak teater. Taulah aku makna ekspresi orang.” Harjo tak bisa membantah. Dan sejak saat itu Setyo selalu menceritakan perihal fansnya itu setiap kali ia datang ke pasar dan menonton pertunjukan Setyo.

“Kamu nih kayaknya jatuh cinta sama perempuan itu.”

“Kalo aja boleh, Jo. Lha wong dia itu udah maried kok.”

“Lha kok kamu tau?”

“Iya, setiap kali dia ke pasar kalo nggak sama cewek yang satunya ya sama laki-laki, suaminya.”

“Siapa tau laki-laki itu saudaranya.”

“Lha wong perutnya makin lama makin gede kok,” ujar Setyo sambil menggerakkan tangannya menggambarkan perut yang buncit.

“Apalagi itu namanya kalo bukan meteng?”

“Cacingan!”

“Gundulmu!!” Harjo terpingkal.

****

“Dik, sudahlah, istirahat. Jangan kecapean, kondisi tubuhmu tuh lemah. Kasian janin di perutmu,” Budi menatap istrinya yang tengah memasak itu iba.

“Sebentar lagi Mas, nanggung,” jawab Lestari singkat.

“Sudah sini aku yang kerjain.”

“Nggak usah, Mas Budi baru pulang, masih cape.” Tapi Budi tetap duduk di sisi Lestari dan membantunya meracik masakan.

“Biar Dewi yang nerusin,” ujar Budi lagi.

“Dewi tidur, dia barusan aja datang dari sekolah. Jangan di ganggu.” Budi diam, tak membantah kemauan istrinya yang keras kepala itu. Watak workaholic sudah melekat, walau pun tubuhnya ringkih pesakitan, ia seperti tak kenal lelah. Lestari terus bekerja, membersihkan seluruh rumah, menjahit pakaian bayi, bahkan terkadang ia berjalan kaki ke pasar. Walau pun Dewi, adik Budi tinggal bersama mereka, Lestari tak ingin geraknya dihalangi. Ia memang pekerja keras, tak mau berhenti bekerja walau usia kandungannnya masih sangat muda. Namun tubuh itu kurang gemuk untuk ukuran wanita hamil. Kenaikan bobotnya tak sampai 10 kg dan itu bukan berat yang ideal.

“Kamu boleh kerja kayak gitu kalau kandunganmu sudah besar. Sekarang jangan dulu.” Lestari hanya tersenyum kecil.

“Mas tau nggak aku pingin apa?”

“Apa?”

“Kenalan sama robot di pasar itu.”

“Ha?!” serasa Budi tak percaya atas jawaban istrinya.

“Bener Mas. Nggak tau kenapa aku salut sama anak itu, kreatif banget. Dia berani bikin sensasi. Ngamen dengan cara itu kan lebih baik dari pada nyanyi nggak karuan trus maksa orang untuk ngasih uang. Gerakannya juga kayak robot beneran.” Budi tak memberi komentar apa pun. Ia tak habis pikir dengan keinginan aneh itu.

“Bawaan orok apa ya Mas?”

“Ngidam kok aneh-aneh, Dik!” sahut Budi. Lagi-lagi Lestari tersenyum.

Dan kandungan Lestari semakin besar, ia tak pernah bosan melihat pengamen itu. Setiap kali ia datang ke pasar bersama adik iparnya atau dengan suaminya, ia selalu menyempatkan diri untuk memasukkan kepingan uang ke dalam kotak musik dan tersenyum menikmati tarian robot itu.

***

Dan Setyo semakin antusias, Harjo semakin jenuh. Tapi Harjo tak ingin mengeluh di depan sahabatnya, karna temannya yang baik itu tak pernah berat tangan untuk membantu. Sejak Setyo menekuni profesi ini beberapa bulan yang lalu mereka mulai bisa makan ayam dan telur. Perut mereka semakin jarang keroncongan. Setyo pun terkadang membantu Harjo menyediakan alat melukisnya.

“Untuk fans setia ada service khusus.”

“Service apaan?”

“Aku akan membuat tarian khusus untuk perempuan itu, Jo. Special!”

“Tarian special gimana?”

“Ya, pokoknya yang special, yang beda dari biasa-biasanya. Ada gerakan penghormatannya. Dan saat aku menunjukkannya kepada perempuan itu nanti, tarianku akan kututup dengan gerakan penghormatan ke depan dia...”

“Mbuh lah Yo, karepmu. Sing penting ojo ngisin-isini!” Harjo meletakkan gambar hasil goresannya ke atas meja. Setyo meraih dan mengamatinya. Gambar suasana pasar dengan robot Setyo sebagai center of interest, dan perempuan itu di antara penontonnya.

“Jo, jilbabnya kurang gede, Jo. Dia nggak pake jilbab kecil kayak gitu. Bajunya rapet kok!” Setyo protes menyalahkan gambar Harjo, tapi Harjo tak peduli.

* * * *

“Mas Budi, Mbak Lestari mau melahirkan!!” Budi terhenyak demi mendapat kabar via telepon dari Dewi. Ia bergegas meninggalkan pekerjaannya dan menuju rumah sakit. Di tengah jalan benaknya tak berhenti berpikir, usia kandungan Lestari baru tujuh bulan, dan itu artinya anaknya lahir prematur.

“Ya Allah... selamatkan anak istriku,” Budi tak henti berdoa.

Ia tertegun memasuki ruang bersalin. Di sana istrinya tengah berjuang meregang nyawa. Budi meraih tangan Lestari, berusaha menyalurkan energi pada istrinya. Ia turut memberikan semangat, kekuatan, dan doa. Perjuangan itu terasa sangat lama, Lestari pucat, seluruh tubuhnya basah berpeluh. Hanya satu yang Lestari harapkan, perjuangan ini segera berakhir dan anaknya terlahir dengan selamat. Hingga kontraksi terakhir, dan tangis bayi pecah membahana.

“Laki-laki, Pak. Sehat,” ujar bidan yang menolong Lestari.

“Alhamdulillah...,” Budi bernapas lega. Dikecupnya kening Lestari, dan saat itulah ia rasakan genggaman tangan Lestari melemah dan lepas. Bibirnya lirih mengucap asma Allah sebelum akhirnya matanya tertutup rapat. Budi terpana, beberapa detik ia terdiam, dan detik berikutnya ia mulai memanggil-manggil nama Lestari, menepuk-nepuk pipinya berharap mata itu kembali terbuka. Para suster kalut, semua berusaha mengembalikan detak jantung Lestari. Tapi terlambat..., dan Budi menangis memeluk tubuh Lestari yang lemas tak bernyawa.

* * * *

“Sampai kapan kamu latihan tarian itu, Yo?” tanya Harjo demi melihat Setyo yang tak pernah lelah berlatih tarian special untuk fansnya.

“Ya sampai perempuan itu datang lagi,” jawab Setyo enteng.

“Iya, tapi kapan? Sudah berapa bulan dia nggak muncul.”

“Mungkin dia sudah melahirkan, dan sekarang masih diam di rumah nyusuin anaknya sampai anaknya bisa diajak pergi. Setelah itu dia akan ke pasar lagi.”

“Bosen aku liat kamu latihan tarian itu terus. Aku aja sampe hampir bisa. Gini tho?” seloroh Harjo menirukan tarian Setyo. Setyo mengangkat jempolnya.

“Kalo dia nggak ke pasar lagi gimana?” tanya Harjo lagi. Setyo terdiam sesaat. Ia pun sebenarnya hampir putus asa, sudah hampir empat bulan perempuan itu tak pernah muncul. Tapi Setyo enggan patah semangat.

“Ah, aku yakin suatu saat dia datang lagi ke pasar, dan aku akan menunjukkan tarian ini padanya.”

“Sampai kapan?”

“Kapan pun!!” jawab Setyo singkat.

ANJUNGAN KASIH

diterbitkan di Annida no 04, tahunnya mmm, lupa lagi kayaknya. heheh


Namaku Diah, tapi teman-teman biasa memanggilku Didi. ‘Lebih macho’ kata mereka, sesuai dengan selera penampilanku yang rada tomboy tapi tetap feminim. (gimana coba?) Aku suka berteman dengan siapa pun. Namun baru kali ini ada seseorang yang tak hanya menawarkan pertemanan denganku. Ia, tanpa sadar mungkin, telah menautkan hatinya padaku, menjadikanku anjungan untuk merapatkan rasa kasihnya yang tak punya tempat berlabuh…

20 April 2000

“Hai! Namamu siapa?” tiba-tiba sebuah suara memecah kesunyian, mengejutkanku. Kusapukan pandangan ke arah datangnya suara, namun tak kutemukan seorang pun. Aku tercenung sendiri menatap sekitar. Hari masih sangat pagi, bahkan matahari belum memulai tugas rutinnya. Rumah-rumah masih terterangi lampu. Dan aku sendiri di atap rumah ini. Pakaian basah di tanganku menitikkan tetes air cuciannya, menyusun nada bening tertimpa ember plastik.

“Hai!! Namamu siapa?!” suara itu kembali terdengar, kali ini lebih keras. Aku tersentak. Kualihkan wajahku ke sisi kanan. Mataku bersiborok menatap sesosok manusia di tengah temaram, sejajar di kananku, hanya berjarak 5 meter dari tempatku. Bergidik aku memperhatikan sosok itu, bulu romaku tegak. Kutatap ia, seorang gadis yang berdiri seimbang di genting rumah sebelah, rambutnya yang sebahu keriting kumal tergerai, sebagian menutupi parasnya yang kotor, namun masih tampak sisa kecantikan alami di situ. Pakaiannya yang lusuh dan kumal menambah kesan seram, apalagi lampu suram dari sebuah ruang sempit di belakangnya melengkapi ketakutanku. Dia menyeringai, deretan gerigi kuning terihat sinis, matanya tajam menatapku. Aku mundur beberapa jarak, pakaian di tanganku kuletakkan lagi di ember.

“Hi…hi…hi…,” gadis itu terkekeh perlahan, membekukan detak jantungku, darahku berdesir kaku. Uff… kenapa pula aku harus bertemu dengan sosok semacam ini di pagi petamaku? Kemudian perlahan ia duduk di genting tempatnya berdiri, dirangkul kedua kakinya, detelekan dagu ke lututnya. Matanya memandang lepas ke depan, kosong. Lalu sesaat kemudian mulutnya mulai menceracau tak karuan. Terkadang ia menyebut-nyebut nama seseorang, lalu memaki, lalu tertawa, lalu kembali terdiam. Hh… aku baru sadar siapa yang kuhadapi. Kutarik napas lega panjang, orang gila!! Dia cuma orang gila. Kupikir…

Kupercepat kerjaku, sudah jadi kebiasaanku mencuci sebelum subuh dan menjemurnya ba’da subuh, dan selalu kulakukan seorang diri, sementara orang lain masih enggan beranjak dari ruang hangatnya. Tapi baru kali ini aku ditemani oleh seseorang yang belum kukenal, dan ia hanya menceracau sendiri, tidak mengajakku berbicara. Tapi kalau pun ia mengajakku berbincang… apa aku mau?

Perlahan kuturuni tangga kayu, di bawah sudah menanti Mbak Iin seraya tersenyum ke arahku.

“Diajak ngobrol sama Mae ya dhe’?” tanyanya padaku.

“Mae?” ujarku tak mengerti.

“Itu, anak sebelah yang suka duduk di genting rumahnya,” jelasnya.

“Oh…,” aku mengangguk perlahan.

“Maklum aja, dia tuh rada sakit,” tambah Mbak Iin seraya meletakkan jarinya miring di dahi.

“Tapi kasihan Dhe’, sama orang tuanya dia dikurung di kamar itu. Kata orang-orang sih dia nggak pernah dirawat, cuma di kasih makan doank, bahkan seringnya dipukulin sama bapak tirinya. Ibunya mana peduli. Ya…, gimana nggak tambah gila tuh anak diperlakukan seperti itu.” Aku hanya manggut-manggut mendengar ceritanya. Sebagai orang baru di kontrakan ini aku memang belum begitu tahu situasi sekitarku.

“Tapi dia suka duduk di situ cuma pagi aja, kalo mulai siang dia disuruh masuk sama orang tuanya. Dulu sih kita juga sering ketemu sama dia kalo pas jemur baju pagi-pagi, tapi sekarang kita pada ngeri semua, liat penampilannya itu lho. Jadinya kita ngubah jadwal nyuci baju rada siangan,” Mbak Iin mengakhiri ceritanya. Aku diam tak menimpali, hanya merenungi ucapannya tadi. Kasihan. Hanya itu yang terbersit dalam hatiku. Tapi tak adakah yang mencoba mengajaknya berbicara? Sekedar menjadi temannya berbagi cerita mungkin?

“Aku pernah ngajak dia ngobrol waktu aku ketemu dia,” ujar Mbak Lia, mahasiswi paling senior di rumah ini saat aku menceritakan perihal Mae padanya.

“Kasihan dia, nggak ada yang mau jadi temannya. Pastinya dia juga butuh temen buat ngobrol kan? Toh dia kadang-kadang paham kok kalo diajak ngomong. Cuma sekarang nih aku suka siang kalo nyuci baju, makanya nggak pernah ketemu dia lagi. Coba aja kalo Dhe’ Didi pengen ngajak ngobrol. Ujarnya lagi. Kuputar benakku, hm… aku belum pernah ngobrol dengan orang gila sebelumnya. Tapi kisah gadis ini menarik untuk kugali lebih jauh. Kenapa tidak…?

22 April 2000

“Hai! Namamu siapa?” nah, suara itu, ini saat yang kutunggu-tunggu. Kualihkan wajahku, gadis itu sudah berada di depan jendela kamarnya, berdiri tegak di genting, persis seperti dua hari yang lalu.

“Aku Didi, kamu siapa?” jawabku ramah. Aku beranjak mendekatinya. Sesaat ia mundur takut, namun langkahnya terhenti saat kutorehkan senyum tulusku di bibir.

“Namamu siapa?” kuulangi pertanyaanku, walau aku sudah tau namanya, tapi kupikir pertanyaan ini adalah pertanyaan paling tepat untuk mengawali perkenalanku dengannya. Gadis itu menyeringai, walau tampak menakutkan tapi kurasa ada sedikit senang. Perlahan ia duduk, seperti kemarin, diletakkan dagu di lututnya. Aku pun duduk di tembok kecil tepian atap.

“Aku Didi, di-di. Kamu?” kueja namaku perlahan, kuharap kali ini dia menjawab pertanyaanku.

“Mae,” ujarnya cepat. Aku tersenyum lagi, akhirnya. Dia tersenyum seringai.

“Mae sekolah?” tanyaku lagi. sesaat dia terdiam, lalu perlahan kepalanya menggeleng. Hh, kutarik napas dalam, ternyata tak terlalu sulit baginya untuk memahami perkataanku.

“Namamu siapa?” tanyanya lagi. Kembali kueja namaku,

“Di-di,”

“Di – di,” tirunya.

“Didi sekolah?” ia menirukan ucapanku, aku kembali tersenyum.

“Iya, aku kuliah,” jawabku singkat. Ia kembali menyeringai, kali ini lebih manis.

“Bangunnya pagi ya?” tanyaku mencoba mengakrabkan diri. Mae hanya diam tak menjawab.

“Nyuci baju ya?” tanyanya singkat. Aku mengiyakan. Lalu ia berdiri lebih dekat ke arahku, dilongokkan kepalanya melihat ember cucianku. Kutatap wajahnya lebih lekat. Ya, ia memang cantik. Dengan paras mongoloid, kulit kuning, dan mata sipitnya menambah ayu mukanya yang mungil. Anak secantik ini, mengapa pula orang tuanya tega menyia-nyiakan ia, gumamku dalam hati.

“Mama papa Mae mana?” tanyaku. Mae hanya diam, tampak ragu tersirat di wajahnya.

“Mami papi?” ralatku, kupikir ia tak memanggil orang tuanya dengan sebutan mama-papa.

“Bobo’!” jawabnya singkat. Aku mengangguk mengerti. Sesaat aku pun terdiam, tak tau harus berbicara apalagi. Mae kembali duduk di tempatnya berdiri, lalu mulutnya kembali berceracau. Kucoba menangkap omongannya. Saat ia sebutkan sebuah nama, kucoba menimpali,

“Siapa itu?” tanyaku.

“Papi!” jawabnya. Selanjutnya ia mengucapkan beberapa umpatan kasar, seperti ingin memuntahkan rasa benci di hati. Aku tertegun. Baru kusadari, walau otaknya tak waras, tapi hati nuraninya masih punya perasaan. Ia punya rasa benci, kesal, dan sakit hati. Maka pasti ia pun punya rasa kasih, pikirku dalam hati. Tapi pada siapa rasa kasihnya itu ia berikan? Belum habis pikirku, terdengar langkah kaki di dalam rumahnya, lalu suara sentakan marah seorang pria. Mae memalingkan wajah, seketika wajahnya pias, bergegas ia masuk kembali ke kamarnya. Aku terpana, aku bisa merasakan ketakutan yang dialaminya. Detik berikutnya aku kembali sendiri, tanpa Mae. Aku beranjak mendekati ember cucianku. Kembali kulanjutkan aktifitasku, tapi pikiranku tak bisa mengibas kejadian yang baru saja kualami. Kasihan. Lagi-lagi itu yang terlintas di benakku. Kenapa tak kucoba untuk lebih dekat dengannya, sekedar menjadi teman berbincang di pagi harinya yang sunyi. Atau barangkali menjadi temannya?

23 April 2000

“Hai, namamu siapa?” lagi-lagi pertanyaan yang sama. Aku tersenyum pada Mae yang juga sudah berdiri di depan jendela kamarnya.

“Mae lupa ya? Aku Didi. Kemarin kan kita udah kenalan,” ujarku. Mae hanya terdiam sesaat, ia seperti tak peduli pada ucapanku barusan.

“Mae mau ini?” kusodorkan sebatang coklat kearahnya. Sesaat ia ragu.

“Ini, ambil!” sahutku ramah. Mae melangkah mendekatiku. Diraihnya coklat ditanganku. Lalu tak lama ia sudah asyik memakan coklat itu. Aku tersenyum, tampak ada rasa suka terpancar dari matanya.

“Mae suka coklat ya?” Mae diam tak menjawab, ia tetap asyik mengunyah coklatnya.

“Kemarin Didi ke toko, trus liat coklat itu. Didi ingat sama Mae, mungkin Mae suka. Makanya Didi beli aja coklat itu buat Mae.”

“Mae dibeliin coklat sama Papi Yoga. Tapi papi Yoga nggak pernah beliin coklat lagi,” ujar Mae. Dahiku berkerut,

“Siapa itu Papi Yoga?” tanyaku. Mae menatapku.

“Papi Yoga sering ngajak Mae main ke lapangan. Tapi sekarang Papi Yoga nggak pernah datang lagi ke sini,” ujarnya lagi tanpa menjawab pertanyaanku. Tampak kesedihan dari sorotan wajahnya setiap kali ia sebut nama ‘Papi Yoga’. Ayah kandungnya kah? Mungkin ya, kupikir. Tapi kata Mbak Lia ayah kandungnya sudah meninggal tiga tahun yang lalu, dan sejak saat itu pikiran Mae mulai terganggu.

“Papi Yoga rumahnya disana, jauh…,” ujarnya seraya menunjuk langit. Aku mengerti maksudnya.

“Mae mau main ke sana, tapi mami nggak boleh, mami marah kalo Mae mau main ke sana. Papi Yoga suka main bola sama Mae, tapi Papi yoga nggak pernah ke sini lagi,” lagi-lagi wajahnya sendu. Aku hanya diam mendengar ceritanya. Kubiarkan ia bercerita sepuasnya, terkadang kuajukan pertanyaan perihal perkataannya.

“Papi Yoga suka ngajak Mae jalan-jalan…,” ia terus bercerita tentang papi Yoga. Aku hanya tersenyum. Hingga lagi-lagi sebuah sentakan mengejutkan kami. Segera Mae beringsut masuk. Sesaat kemudian terdengar makian pria tadi menumpahkan amarahnya pada Mae, entah apa yang telah Mae lakukan. Lama-kelamaan caci maki itu ditimpali tamparan, dan terdengar teriakan Mae mengaduh, lalu ia menangis. Aku miris mendengarnya. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Kasihan. Hanya itu…

30 April 2000

“Hai!” sapa Mae kali ini lebih ramah. Aku tersenyum padanya. Semakin hari aku semakin akrab dengan Mae. Ia sering bercerita tentang dirinya, walau pun dengan susunan kalimat yang kadang sulit dimengerti maksudnya. Namun tak ayal, hingga saat ini ia belum hapal namaku. Tak mengapa, tak jadi masalah buatku. Yang penting ia hapal dengan wajahku, itu sudah sangat cukup. Mae berjalan mendekatiku hingga ke tepian atapnya. Ia julurkan kakinya, mencoba menggapai atap rumahku.

“Mau ke sini?” kuulurkan tanganku membantunya, sesaat ia ragu.

“Ayo nggak papa, jangan takut,” ajakku. Perlahan kakinya mencapai tembok pembatas atap. Dan menit berikutnya ia sudah berdiri tepat di sisiku. Aku tersenyum, ia pun tertawa senang. Lalu ia mengangkat tangannya, menyentuh kerudung kaosku.

“Mae mo pake?” tanyaku. Mae hanya tertawa kecil.

“Mae nggak punya ini,” ujarnya menunjuk kerudungku. Kuraih sebuah kerudung kaosku yang tergantung, sudah kering tapi belum kuambil dari jemuran.

“Ini buat Mae,” ujarku seraya menyerahkan kerudung itu. Mae tersenyum senang. Dikenakannya kerudung ke kepalanya. Rambutnya yang panjang masih tampak tersumbul di bagian sisi-sisi wajahnya. Kurapikan kerudungnya. Lagi-lagi ia tersenyum.

“Mae mau main ke rumah Didi?” tanyaku sambil menunjuk ke tangga turun ke arah rumah bagian dalam. Ia melongokkan kepalanya ke bawah, lalu cepat ia menggeleng.

“Nggak pa-pa, nggak usah takut,” sahutku meyakinkannya. Ia tetap menggeleng. Tak lama terdengar deheman seorang pria dari dalam rumahnya. Bergegas Mae beranjak mendekati genting rumahnya bermaksud untuk pulang. Kubantu ia menyeberangi atap itu, dan ia segera masuk melalui jendela dan menutupnya dari dalam. Kuhela napas panjang. Tak apa lah kalau ia tak bisa berkunjung ke rumah hari ini, mungkin lain waktu ia punya kesempatan.

2 Mei 2000

Untuk kedua kalinya Mae menyeberangi atap rumahnya. Ia kenakan jilbab biru pemberianku tempo hari.

“Mae makin cantik kalo pake kerudung,” ujarku memuji. Senyumnya terkembang, ia tampak semakin senang. Diraihnya sebuah pakaianku di ember, lalu ia letakkan di tali jemuran.

“Mae mo bantuin Didi?” tanyaku, ia hanya diam sambil terus mengambil pakaian yang lain.

“Gini cara jemurnya,” kuajari ia memeras pakaian basah itu lalu membaliknya hingga bagian luar pakaian berada di dalam, dan meletakkan di tali jemuran.

“Bagus,” pujiku lagi. Ia kembali tersenyum. Diraihnya lagi pakaian yang lain, ia peras, lalu wajahnya berpaling menatapku. Tiba-tiba ia kibatkan tangannya yang basah ke wajahku. Aku berteriak tertahan, ia pun tertawa melihat reaksiku.

“Nakal ya?” sahutku. Kubalas mengibatkan tanganku yang basah ke wajahnya. Ia pun berteriak sembari tertawa. Sesaat kami bercanda berdua, tawanya tak henti memecah kesunyian pagi ini. Tiba-tiba sebuah sentakan mengejutkan kami,

“Mae! Pulang!!” Serentak kami menoleh ke arah datangnya suara. Deg!! Sejuta terkejut merasuki hatiku tiba-tiba. Di jendela kamar Mae sudah tampak seorang pria berdiri menatap kami dengan tatapan penuh amarah.

“Pulang!!” teriaknya. Mae bersembunyi di balik punggungku.

“Maaf Oom, ijinkan Mae main sebentar dengan saya di sini,” kataku menghiba, berharap ia bersedia memberi ijin.

“Pulang!!” sentaknya lagi.

“Jangan dekat dengan orang itu! Ayo pulang!!” ketakutan Mae menjauhiku dan masuk ke kamar sempitnya. Air mata meleleh dari dua sisi matanya, namun ia hanya membisu tanpa suara.

“Mae anak saya, jangan pengaruhi dia,” ujar pria itu kasar.

“Tolong Oom, kasihan Mae, dia butuh teman. Saya tidak mempengaruhinya, saya hanya mengajaknya berbincang, itu saja,” sahutku.

“Nggak usah sok suci! Anda tidak punya hak mencampuri urusan keluarga saya,” pria itu menatapku dengan mata merahnya. Di belakangnya tampak Mae beringsut ke ujung kamar, matanya menatapku memohon. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Brak!! Jendela kamar ditutup keras. Aku tersentak. Lalu mulai terdengar suara-suara pukulan bertubi-tubi di kamar Mae, tapi aku tak mendengar suara tangis Mae. Hanya terdengar cacian pria itu. Hatiku menangis pilu, namun tak ada air mata yang mengalir. Ya Allah, tolong Mae, doaku dalam hati.

3 Mei 2000

Aku sendiri kali ini. Kupandangi jendela kamar Mae, masih tertutup rapat. Sepanjang hari kemarin kudengar berulang kali ayah tirinya memukuli Mae, bahkan terkadang ibunya pun urun berbuat sama. Aku miris, trenyuh. Aku merasa menyesal, sedikit banyak aku juga ikut bersalah. Tapi aku tak bisa memberi pembelaan bagi Mae.

Pagi ini tetap sunyi, langit masih biru tua, sinar matahari belum juga tampak. Dan aku masih sendiri. Kupikir aku tak akan bertemu lagi dengan Mae. Aku hanya bisa berdoa untuknya di setiap munajatku. Satu persatu pakaian kujemur, perlahan air mataku menetes. Aku tak tahu bagaimana keadaan Mae saat ini.

Kuraih potongan baju yang terakhir. Tiba-tiba jendela kamar Mae terbuka keras. Dari balik kamar yang temaram tampak Mae melangkahkan kakinya ke genting rumahnya.

“Mae!” aku berteriak tertahan, aku tak ingin suaraku membangunkan papi maminya. Namun aku tercenung menatap Mae, tubuhnya sedikit tersinari lampu, tampak pakaiannya sangat kotor, ada banyak noda di kerudung yang ia kenakan. Kukernyitkan dahiku berharap bisa menerjemahkan noda di tubuhnya itu. Mae mulai tertawa kecil, seringainya tampak menakutkan kali ini. Aku terkesiap menyadari apa yang baru saja kuamati. Ada percikan di wajah dan badannya, percikan yang menebarkan bau, amis!! Darah!! Mae tetap tertawa tanpa henti, matanya menatapku tajam. Lalu tangannya bergerak perlahan mengacungkan sebuah benda seakan ia ingin menunjukkan benda itu padaku.

“Mae!!” teriakku lagi setelah melihat pisau di tangannya. Darah menetes dari sela jemarinya, dan dari mata pisau pun mengalir darah segar. Mae tertawa puas, ia tertawa semakin kencang, dan semakin kencang. Tawa Mae melengking, memecang kesunyian pagi, pisau di tangannya sesaat berkilat tertimpa sinar matahari yang mulai muncul di permukaan cakrawala. Aku tertegun tak mampu bersuara….